user-avatar
Today is Sabtu
Oktober 25, 2014

Oktober 31, 2011

Tanda-Tanda Bahaya Persalinan

by unzilaturrohmah — Categories: Uncategorized2 Comments

Tanda-tanda bahaya persalinan

1.         Ketuban pecah dini atau yang sering disebut dengan KPD adalah ketuban pecah spontan tanpa diikuti tanda-tanda persalinan, ketuban pecah sebelum pembukaan 3 cm (primigravida) atau sebelum 5 cm (multigravida).

a.          Prinsip Dasar

  • Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
    • Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam Obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi khorioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, dan menyebabkan infeksi ibu.
    • Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua factor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
    • Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin, dan adanya tanda-tanda persalinan.

b.         Masalah

  • Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu
  • Ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
  • Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm.

c.          Penilaian klinik

  • Tentukan pecahnya selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (Nitrazin test) merah menjadi biru, membantu dalam menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan, kelainan janin.
  • Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG.
  • Tentukan ada tidaknya infeksi. Tanda-tanda infeksi, bila suhu ibu ≥ 380 C, air ketuban yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA (Lekosit Esterase). Lekosit darah > 15.000/mm3. Janin yang mengalami takhikardi, mungkin mengalami infeksi intrauterine.
  • Tentukan tanda-tanda in partu. Tentukan adanya kontraksi yang teratur, periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminasi kehamilan) antara lain untuk menilai skor pelvic.

d.         Penanganan

Konservatif

  • Rawat di Rumah Sakit
  • Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusio plasenta
  • Jika ada tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau), berikan antibiotika sama halnya jika terjadi amnionitis
  • Jika tidak ada infeksi dan kehamilan <37 minggu

-          Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin ampisilin 4 x 500 mg selama 7 hari DITAMBAH eritromisin 250 mg per oral 3 kali per hari selama 7 hari.

-          Berikan kortikosteroid kepada ibu untuk memperbaiki kematangan paru janin betametason 12 mg I.M. dalam 2 dosis setiap 12 jam ATAU deksametason 6 mg I.M. dalam 4 dosis setiap 6 jam.

-          Lakikan persalinan pada kehamilan 37 minggu

-          Jika terdapat his dan darah lender, kemungkinan terjadi persalinan preterm

  • Jika tidak terdapat infeksi dan kehamilan > 37 minggu

-          Jika ketuban telah pecah > 18 jam, berikan antibiotika profilaksis untuk mengurangi resiko infeksi sreptokokus grup B:

ü  Ampisilin 2 g I.V. setiap 6 jam ATAU penisilin G 2 juta unit I.V. setiap 6 jam sampai persalianan jika tidak ada infeksi pasca persalinan hentika antibiotika

-          Nilai serviks

ü  Jika serviks sudah matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin

ü  Jika serviks belum matang, matangkan serviks dengan prostaglandin dan infuse oksitosin atau lahirkan dengan seksio sesarea.

2.         Perdarahan Pada Kehamilan Muda

a.          Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.

Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi luar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Terminology umum untuk masalah ini adalah keguguran atau miscarriage.

Abortus buatan adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan. Terminology untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi atau abortus provokatus.

  • Masalah

a)      Perdarahan bercak hingga derajat sedang pada kehamilan muda

b)      Perdarahan massif atau hebat pada kehamilan muda.

  • Penanganan umum

a)      Lakukan penilaian awal untuk segera menetukan kondisi pasien (gawat darurat,komplikasi berat atau masih cukup stabil)

b)      Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilitasi pasien sebelum melakukan tindakan lanjutan (evaluasi medic atau merujuk)

c)      Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk ke rumah sakit.

ü  Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahn hebat, segera atasi komplikasi tersebut

ü  Gunakan jarum infuse besar (16 G atau lebih besar) dan berikan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer.

ü  Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji padanan-silang (crossmatch)

ü  Ingat : kemungkinan hamil ektopik pada pasien hamil muda dengan syok berat

ü  Bila terdapat tanda-tanda Sepsis, berikan antibiotika yang sesuai

ü  Temukan dan hentikan dengan segera sumber perdarahan

ü  Lakukan pemantaun ketat tentang kondisi pascatindakan dan perkembangan lanjutan.

  • Jenis-jenis abortus

1)      Abortus imminens terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.

ü  Tidak perlu pengonbatan khusus atau tirah baring total

ü  Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlrbihan atau melakukan hubungan seksual

ü  Bila perdarah:

-       Berhenti: lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi.

-       Terus berlangsung: nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG) lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola).

-       Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologi

2)      Abortus insipiens

Perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda di mana hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit.

ü  Lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi bila usia gestasi ≤ 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan peralatan Aspirasi Vakum Manual (AVM) setelah bagian-bagian janin dikeluarkan. Bila usia gestasi ≥ 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan prosedur dilatasi dan kutretase (D&K)

ü  Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilaksanakan atau usia gestasi lebih besar dari 16 minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan:

-    Infuse Oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat dinaikkan hingga 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi uterus hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi.

-    Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian.

-    Misoprostol 400 mg per oral dan apabila masih diperlukan, dapat diulangi dengan dosis yang sama setelah 4 jam dari dosis awal.

ü  Hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat dikeluarkan dengan AVM atau D&K (hati-hati resiki perforasi)

3)      Abortus Inkomplit

Perdarahan pada kehamilan muda di mana sebagian dari hasil konsepsi telah ke luar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis.

ü  Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komlikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis)

ü  Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai perdarahn hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum. Setelah itu evaluasi perdarahan:

-    Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg peroral

-    Bila perdarahan terus berlangsung, evaluasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D&K (pilihan tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian-bagian janin)

ü  Bila tak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika profilaksis (ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg)

ü  Bila terjadi infeksi, beri ampisilin 1 g dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam

ü  Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi di bawah 16 minggu, segera lakukan evaluasi dengan AVM

ü  Bila pasien tampak anemic, berikan sulfas ferosus 600 mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfuse darah (anemia berat)

4)      Abortus komplit perdarahan pada kehamilan muda dimana sekuruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri.

ü  Apabila kondisi pasien baik, cukup diberi tablet Ergometrin 3×1 tablet/hari untuk 3 hari

ü  Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfat ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu disertai dengan anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu,sayuran segar, ikan , daging, telur). Untuk anemia berat, berikan tranfusi darah.

ü  Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberi antibiotika, atau apabila khawatir akan infeksi dapat diberi antibiotika profilaksis.

3.      Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. Tuba fallopi merupakan tempat tersering untuk terjadi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%).

Tanda gejalanya sangtlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut. Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum dikombinasidenga ultrasonografi. Jika diperoleh hasil yang tidak membeku, segera mulai penanganan.

a.       Diagnosis banding

Diagnosis banding tersering untuk kehamilan ektopik adalah abortus imminens. Diagnosi banding adalah penyakit radang panggul baik akut Maupin kronis, kista ovarium (terpuntir atau ruptur), dan apendisitis akut. Jika tersedia, ultrasonografi dapat digunakan untuk membedakan abortus imminens atau kista ovarium terpuntir dengan kehamilan ektopik.

b.      Penanganan awal

  • Jika fasilitas memungkinkan, segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. Jangan menunggu darah sebelum melakukan pembedahan
  • Jika fasilitas tidak memungkinkan, segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang diuraikan pada bagian penilaian awal.
  • Pada laparotomi, eksplorasi kedua avaria dan tuba fallopi:

-          Jika terjadi kerusakan berat pada tuba, lakukan salpingektomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama). Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus.

-          Jika kerusakan pada tuba kecil, lakukan salpingostomi (hasil konsepsi dikeluarkan, tuba dipertahankan). Hal ini hanya dilakukan jika konservasi kesuburan merupakan hal yang penting untuk ibu tersebut, karena resiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi.

c.       Auto-transfusi

Jika terjadi perdarahan banyak dapat dilakukan auto-transfusi jika darah intraab-dominal masih segar dan tidak terinfeksi atau terkontaminasi (pada akhir kehamilan, darah dapat terkontaminasi dengan air ketuban, dan lain-lain sehingga sebaiknya tidak digunakan untuk auto-transfusi). Darah dapat dikumpulkan sebelum pembedahan atau setelah abdomen dibuka:

  • Sewaktu ibu tersebut berbaring di atas meja operasi sebelum operasi dan abdomen tampak tegang akibat terkumpulnya darah, saat itu memungkinkan untuk memasukkan jarum melalui dinding abdomen dan darah dikumpulkan di set donor.
  • Cara lain, bukalah abdomen:

-          Ambil darah ke dalam suatu tempat dan saringlah darah dengan menggunakan kasa untuk memisahkan bekuan darah

-          Bersihkan bagian atas dari kantong donor darah dengan cairan antiseptic dan bukalah dengan pisau steril

-          Tuangkan darah wanita tersebut ke dalam kantong dan masukkan kembali melalui set penyaring dengan cara biasa

-          Jika tidak ersedia kantong donor dengan antikoagulan, tambahkan sodium sitrat 10 ml untuk setiap 90 ml darah.

b.

c.

d.      Penanganan selanjutnya

  • Sebelum memperoleh ibu pulang, lakukan konseling dan nasihat mengenai prognosis kesuburannya. Mengingat meningkatnya risiko akan kehamilan ektopik selanjutnya, konseling metode kontrasepsi metode kontrasepsi dan penyediaan metode kontarsepsi, jika diinginkan, merupakan hal yang penting
  • Perbaiki anemia dengan sulfas ferrosus 600 mg/hari per oral selama 2 minggu
  • Jadwalkan kunjungan berikutnya untuk pemantauan dalam waktu 4 minggu.

4.      Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif.
Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan oleh :

  • His tidak efisien (adekuat)
  • Faktor janin (malpresenstasi, malposisi, janin besar)
  • Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)

a.       Tanda dan gejala partus lama, yaitu:

  • Pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada partograf.
  • Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam.
  • Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik.

b.      Penanganan umum

  • Nilai dengan segera keadaan umum ibu hamil dan janin (termasuk tanda vital dan tingkat hidrasinya)
  • Kaji kembali partograf, tentukan apakan pasien berada dalam persalinan.

-          Nilai frekuensi dan lamanya his.

  • Perbaiki keadaan umum dengan:

-          Dukungan emosi perubahan posisi (sesuaidengan penanganan persalinan normal)

-          Periksa keton dalam urin dan berikan cairan, baik oral maupun parentraln dan upayakan buang air kecil (katerisasi hanya kalau perlu)

  • Berikan analgesia: tramadol atau petidin 25 mg IM (maksimum 1 mg/kgBB) atau morfin 10 mg IM, jika pasien meraskan nyeri yang sangat

c.       Penanganan khusus periksa apakah ada infeksi saluran kemih atau ketuban pecah. Jika didapatkan infeksi, obati secara adekuat. Jika tidak ada pasien boleh rawat jalan.

  • Fase Laten Memanjang (Prolonged Latent Phase)

Diagnosis fase laten memanjang dibuat secara retrospektif. Jika his berhenti, pasien disebut belum in partu atau persalinan palsu. Jika his makin teratur dan pembukaan makin bertambah lebih dari 4 cm, pasien masuk dalam fase laten. Jika fase laten lebih dari 8 jam dan tidak tanda-tanda kemajuan, lakukan penilaian ulang terhadap serviks:

ü  Jika tidak ada perubahan pada pendataran atau pembukaan serviks dan tidak ada gawat janin, mungkin pasien belum in partu

ü  Jika ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks, lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin

-          Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam

-          Jika pasien tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin selama 8 jam, lakukan seksio sesarea

ü  Jika didapatkan tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau):

-          Lakukan akselerasipersalinan dengan oksitosin

-          Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan

Ø  Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam

Ø  DITAMBAH gentamisin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam

Ø  Jika dilakukan seksio sesarea lanjutkan antibiotika DITAMBAH metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas demam selama 48 jam

  • Fase aktif memanjang

ü  Jika tidak ada tanda-tanda disproporsi sefalopelvik atau obstruksi dan ketuban masih utuh, pecahkan ketuban

ü  Nilai his:

-          Jika his tidak adekuat (kurang dari 3 dalam 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik) pertimbangkan adanya inersia uteri

-          Jika his adekuat (3 kali dalam 10 menit dan lamanya lebih dari 40 detik), pertimbangkan adanya disproporsi, obstruksi, malposisi atau malpresentasi

ü  Lakukan penanganan umum yang akan memperbaiki his dan mempercepat kemajuan persalinan.

5.      Syok merupakan kegagalan system sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital. Syok merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa dan membutuhkan tindakan segera dan intensif.

Penyebab syok pada kasus gawat darurat obstetric biasanya adalah perdarahan (syok hipovolemik), sepsis (syok septic), gagal jantung (syok kardiogenik), rasa nyeri (syok neurogenik), alergi (syok anafilaktik).

Curigai atau antisipasi syok jika terdapat satu atau lebih kondisi berikut ini.

  • Perdarahan pada awal kehamilan (seperti abortus, kehamilan ektopik atau mola)
  • Perdarahan pada akhir kehamilan atau persalinan (seperti plasenta previa, solusio plasenta, rupture uteri)
  • Perdarahan setelah melahirkan (seperti rupture uteri, atonia uteri, robekan jalan lahir, plasenta yang tertinggal)
  • Infeksi (seperti pada abortus yang tidak aman atau abortus septic, amnionitis, merritis, pielonefritis)
  • Trauma (seperti perlukaan pada uterus atau usus selama abortus, rupture uteri, robekan jalan lahir)

a.       Tanda dan gejala

Diagnosis syok jika terdapat tanda atau gejala berikut:

-          Nadi cepat dan lemah (110 kali per menit atau lebih)

-          Tekanan darah yang rendah (sistolik kurang dari 90 mmHg)

b.      Tanda dan gejala lain dari syok meliputi:

-          Pucat (khususnya pada kelopak mata bagian dalam, telapak tangan, atau sekitar mulut)

-          Keringat atau kulit yang terasa dingin dan lembab

-          Pernafasan yang cepat (30 kali per menit atau lebih)

-          Gelisah, bingung, atau hilangnya kesadaran

-          Urin yang sedikit (kurang dari 30 ml per jam)

c.       Penanganan Awal

-          Mintalah bantuan segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat

-          Lukukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu dan harus dipastikan bahwa jalan nafas bebas.

-          Pantau tanda vital (nadi, tekanan darah, pernafasan, dan suhu tubuh)

-          Baringkan ibu tersebut dalam posisi miring untuk meminimalkan resiko terjadinya aspirasi jika ia muntah dan untuk memastikan jalan nafasnya terbuka

-          Jagalah ibu tersebut tetap hangat tetapi jangan terlalu panas karena hal ini akan menambah sirkulasi perifernya dan mengurangi aliran darah ke organ vitalnya.

-          Naikkan kaki untuk menambah jumlah darah yang kembali ke jantung (jika memungkinkan tinggikan tempat tidur pada bagian kaki)

d.      Penanganan khusus

-          Mulailah pemberian infuse (ukuran 16 atau 18) segera berikan cairan infuse (garam fisiologik atau Ringer Laktat) awalnya dengan kecepatan 1 liter dalam 15-20 menit.

-          Berikan paling sedikit 2 liter cairan ini pada 1 jam pertama. Jumlah ini melebihi cairan yang dibutuhkan untuk mengganti kehilangan cairan yang sedang berjalan, setelah kehilangan cairan dikoreksi, pemberian cairan infuse dipertahankan dalam kecepatan 1 liter per 6-8 jam.

-          Jangan berikan cairan melalui mulut pada ibu yang mengalami syok

6.      Perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam yang melebihi 500 mlsetelah bersalin didefinisikan sebagai perdarahan pascapersalinan. Terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini

  • Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari sebenarnya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urin. Darah juga tersebar pada spons, handuk, dan kain, di dalam ember dan di lantai
  • Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar hemoglobin normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada yang anemia.

Seorang ibu yang sehat dan tidak anemic pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah

  • Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikendali sampai terjadi syok

a.       Masalah

  • Perdarahan setelah bayi lahir dan dalam 24 jam pertama persalinan (perdarahan Pascapersalinan Primer atau P3)
  • Perdarahan setelah 24 jam pertama persalinan (Perdarahan Pascapersalinan Sekunder atau P2)

b.      Penanganan

  • Mintalah bantuan. Segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat.
  • Lakukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu termasuk tanda vital (nadi, tekanan darah, pernafasna, dan suhu tubuh)
  • Jika curiga adanya syok, segera lakukan tindakan. Jika tanda-tanda syok tidak terlihat, ingatlah saat anda melakukan evaluasi lanjut karena status wanita tersebut dapat memburuk denga cepat. Jika terjadi syok, segera mulai penanganan syok.
  • Pastikan bahwa kontraksi uterus baik:

-          Lakukan pijatan uterus untuk mengeluarkan bekuan darah. Bekuan darah yang terperangkap di uterus akan menghalangi kontraksi uterus yang efektif.

-          Berikan 10 unit oksitosin IM

  • Pasang infuse cairan IV
  • Lakukan kateterasi, dan pantau cairan keluar-masuk
  • Periksa kelengkapan plasenta
  • Periksa kemungkinan ronbekan serviks, vagina dan perineum
  • Jika perdarahn terus berlangsung, lakukan uji beku darah
  • Setelah perdarahan teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti), periksa kadar hemoglobin.

7.      Kejang atau Eklampsia merupakan keadaan darurat yang harus segera ditangani pada kehamilan, yaitu berupa kejang-kejang pada ibu hamil akibat kehamilan itu sendiri. Biasanya, sebelum terjadi eklampsia, terdapat suatu diagnosa preeklampsia. Disebut preeklampsia karena penyakit ini mengawali terjadinya eklampsia.

Preeklampsia merupakan penyakit denagan tanda adanya hipertensi, udema, dan proteinuria (adanya protein dalam urin) yang timbul karena kehamilan. Biasanya sindrom preeklampsia ringan sering tidak diketahui/tidak diperhatikan oleh ibu hamil bersangkutan. Sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat menjadi preeklampsia berat atau bahkan eklampsia. Preeklampsia umumnya terjadi dalam trimester ke-3 kehamilan, namun dapat pula terjadi sebelumnya. Ia lebih sering terjadi pada wanita yang hamil anak pertama pada usia kehamilan mulai 20 minggu.

a.          Penyebab

Sampai saat ini, penyebab terjadinya preeklampsia/eklampsia masih belum pasti. Salah satu teori yang banyak dikemukakan dewasa ini adanya iskemia (pembuluh darah terjepit sehingga terjadi gangguan aliran pembuluh darah dan berkurangnya aliran darah) pada plasenta. Namun teori ini juga belum bisa menerangkan berbagai pertanyaan yang bersangkutan tentangnya.

Frekuensi terjadinya preeklampsia pada tiap negara berbeda, karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu sosial ekonomi, adanya perbedaan kriteria dalam peningkatan diagnosa, dan sebagainya. Wanita yang baru pertama kali hamil memiliki risiko terjadinya preeklampsia dan eklampsia lebih besar dari yang sudah beberapa kali melahirkan.

b.         Gejala

Preeklampsia merupakan penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, udema, dan proteinuria. Berat ringannya penyakit tergantung dari tingginya kadar-kadar tersebut. Biasanya hipertensi muncul lebih awal dari gejala lainnya. Gejala yang tampak akan berbeda bila dibandingkan dengan keluhan kehamilan dengan disertai hipertensi, karena biasanya tekanan darah sudah tinggi sejak awal kehamilan.

Pada wanita hamil dengan preeklampsia, umumnya tekanan darah pada kondisi tidak hamil adalah normal atau malah cenderung rendah, sehingga seringkali ibu hamil terkejut sewaktu mengetahui tekanan darahnya meningkat secara tiba-tiba. Ada beberapa tahap preeklampsia sebelum menjadi eklampsia. Preeklampsia ringan terjadi jika tekanan darah sedikit di atas 140/100 mmhg. Pada preeklampsia sedang, gejala berupa tekanan darah naik di atas 140/100 mmhg dengan disertai rasa pusing, dan terdapat pembengkakan di daerah wajah, jari tangan dan kaki. Disebut preeklampsia berat jika tekanan darah di atas 160/100 mmhg, pusing bertambah berat, terdapat gangguan penglihatan berupa mata kabur dan susah buang air besar.

Bila kondisi tersebut tidak segera diatasi, ditakutkan akan terjadi eklampsia (kejang) yang lama kelamaan akan mengganggu fungsi organ tubuh yang lain dan mengancam jiwa ibu hamil dan janinnya.. Udema ialah penimbunan cairan secara berlebihan pada jaringan longgar tubuh. Kondisi ini terlihat dari kenaikan berat badan yang tampak mencolok serta pembengkakan di jari tangan, kaki dan wajah. Memang, bengkak pada kehamilan merupakan hal yang biasa, namun jika berlebihan tetap harus diwaspadai.

Tiap ibu hamil diharuskan mengalami peningkatan berat badan selama kehamilannya. Kenaikan berat badan 0,5 kg per minggu masih dianggap normal. Namun jika terdapat penambahan berat badan lebih dari 1 kg per minggu secara berturut-turut, harus dicurigai kemungkinan terjadinya preeklampsia.

c.    Terapi

Terapi yang diberikan pada ibu hamil dengan preeklampsia bertujuan mencegah terjadinya preeklampsia menjadi lebih berat atau menjadi eklampsia. Ibu hamil diharapkan mampu melahirkan bayi hidup, dan mampu melahirkan dengan trauma yang minimal baik pada bayi maupun ibu sendiri.

Untuk penderita preeklampsia ringan, dianjurkan untuk bed rest dengan kaki lebih tinggi dari badan. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya aliran darah ke plasenta, ginjal, tekanan pembuluh darah vena pada anggota gerak tubuh bagian bawah berkurang dan penyerapan cairan pada daerah tersebut berkurang pula sehingga udema akan berkurang.

Kemudian ibu hamil dianjurkan untuk selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi, rendah lemak, karbohidrat, mengurangi garam dan memperbanyak sayuran dan buah segar. Bila dengan cara itu kondisi ibu hamil belum juga membaik, walaupun sudah ditambah pemberian obat-obatan, maka kehamilan harus segera diakhiri meskipun umur janin masih belum mencukupi.

Pada penderita eklampsia, jika umur kehamilan belum mencukupi untuk lahir, selain diberikan obat penenang dan penguat rahim, biasanya oleh pihak rumah sakit akan diisolasi di suatu ruang tersendiri dengan lampu yang gelap, karena ia harus benar-benar tenang. Sebab bila ia dikejutkan sedikit oleh sesuatu atau mendapat rangsang cahaya yang menyilaukan, ditakutkan akan terjadi kejang berulang yang akan semakin memperburuk kondisi kehamilannya. Bila dengan segala usaha tersebut masih belum bisa mencegah terjadinya kejang, maka mau tidak mau kehamilan harus segera diakhiri.

d.   Diagnosa

Diagnosa terhadap kecurigaan preeklampsia dan eklampsia harus segera ditegakkan untuk mencegah terjadinya kematian baik ibu hamil maupun janin. Umumnya terjadinya preeklampsia sukar dicegah, namun kita masih bisa mencegah supaya tidak menjadi lebih parah.

Diagnosa didasarkan pada adanya dua dari ketiga hal tanda utama di atas, yaitu hipertensi, udema, dan proteinuria. Adanya 1 tanda sudah harus diwaspadai, oleh karena semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula dokter menanganinya dan mencegah prognosis yang lebih buruk lagi.

e.       Pencegahan

Tidak ada cara lain untuk mencegah preeklampsia atau eklampsia selain dengan menjaga kehamilan dengan baik. Salah satu caranya dengan selalu mengkonsumsi sayuran, buah segar yang bergizi dan menjalani pola hidup sehat.

Makanan yang dikonsumsi haruslah yang mengandung sedikit garam, rendah lemak, karbohidrat dan tinggi kandungan gizinya. Istirahat dan menjaga makanan sangat berguna bagi ibu hamil. Selain itu, pemeriksaan kehamilan secara teratur amat sangat dianjurkan untuk terus memonitor kondisi ibu hamil maupun janin yang tengah dikandungnya. Bila suatu saat ibu hamil merasakan pusing atau leher terasa kaku, harap segera mengukur tekanan darah. Siapa tahu, itu salah satu tanda timbulnya hipertensi pada kehamilan yang dapat menjadi penyakit yang lebih parah lagi.

8.      Distosia bahu adalah kepala janin dilahirkan tetapi bahu tersangkut dan tidak dapat dilahirkan

a.       Penanganan umun

-          Pada setiap persalinan bersiaplah untuk menghadapi distosia bahu, khususnya pada persalinan dengan bayi besar

-          Siapkan beberapa orang untuk membantu

b.      Diagnosis

-          Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tetap berada dekat vulva

-          Dagu tertarik dan menekan perineum

-          Tarikan pada kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap di belakang simfisis pubis

c.       Penanganan

-          Buatlah episiotomy yang cukup luas untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak dan member ruangan untuk tindakan

-          Dalam posisi ibu berbaring telentang, mintalah ia untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin kearah dadanya. Mintalah bantuan 2 orang asisten untuk menekan fleksi kedua lutut ibu kearah dada.

9.      Gawat janin dalam persalinan

a.       Masalah

-          Denyut jantung janin (DJJ) kurang dari 100 per menit atau lebih dari 180 per menit.

-          Air ketuban hijau kental

b.      Penanganan

-          Baringkan ibu miring ke kiri, aanjurkan ibu untuk menarik nafas panjang perlahan-lahan dan berhenti meneran

-          Nilai ulanh DJJ setelah 5 menit:

  • Jika DJJ normal, minta ibu kembali meneran dan pantau DJJ setelah setiap kontraksi. Pastikan ibu tidak berbaring terlentang dan tidak menahan nafasnya saat meneran
  • Jika DJJ abnormal, rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaa gawat darurat obstetric dan bayi baru lahir
  • Dampingi ibu ketempat rujuk

10.  Infeksi dalam persalinan

a.       Prinsip dasar

  • Infeksi intrauterine (korioamnionitis, infeksi intramnion, amnionitis) merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput koriomnion yang disebabkan oleh bakteri.
  • Sekitar 25 % infeksi intrauterine disebabkan oleh ketuban pecah dini
  • Makin lama jarak antara ketuban pecah dengan persalinan, makin tinggi pula resiko morbiditas dan mortalitas ibu dan janin
  • Vagina merupakan medium kultur yang sangatbaik bagi flora vagina, perubahan suasana vagina selama kehamilan , menyebabkan turunnya pertahanan alamiah terhadap infeksi

b.      Masalah

Infeksi intrauterine merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan perinatal

c.       Penanganan

  • Observasi jalannya persalinan dengan baik dan benar
  • Evaluasi setiap demam yang terjadi dalam periode persalinan
  • Kenali segera apabila terjadi ketuban pecah sebelum waktunya
  • Periksa dalam hanya dilakukan atas indikasi yang jelas dan ikuti jadwal evaluasi ulang menurut partograf atau waktu yang telah ditentukan sebelumnya
  • Terapkan prinsip kewaspadaan universal
  • Nilai dengan cermat setiap kasus rujukan dengan dugaan partus lama, macet atau yang bermasalah
  • Lakukan pengobatan profilaksis apabila persalinan diduga akan berlangsung lama
  • Region genetalia dan sekitranya merupakan area dengan resiko tinggi kejadian infeksi atau merupakan tempat sumber infeksi.

Tanda-tanda bahaya persalinan

1.         Ketuban pecah dini atau yang sering disebut dengan KPD adalah ketuban pecah spontan tanpa diikuti tanda-tanda persalinan, ketuban pecah sebelum pembukaan 3 cm (primigravida) atau sebelum 5 cm (multigravida).

a.          Prinsip Dasar

  • Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
    • Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam Obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi khorioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, dan menyebabkan infeksi ibu.
    • Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua factor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
    • Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi, adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin, dan adanya tanda-tanda persalinan.

b.         Masalah

  • Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu
  • Ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
  • Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm.

c.          Penilaian klinik

  • Tentukan pecahnya selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (Nitrazin test) merah menjadi biru, membantu dalam menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan, kelainan janin.
  • Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG.
  • Tentukan ada tidaknya infeksi. Tanda-tanda infeksi, bila suhu ibu ≥ 380 C, air ketuban yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA (Lekosit Esterase). Lekosit darah > 15.000/mm3. Janin yang mengalami takhikardi, mungkin mengalami infeksi intrauterine.
  • Tentukan tanda-tanda in partu. Tentukan adanya kontraksi yang teratur, periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminasi kehamilan) antara lain untuk menilai skor pelvic.

d.         Penanganan

Konservatif

  • Rawat di Rumah Sakit
  • Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusio plasenta
  • Jika ada tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau), berikan antibiotika sama halnya jika terjadi amnionitis
  • Jika tidak ada infeksi dan kehamilan <37 minggu

-          Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin ampisilin 4 x 500 mg selama 7 hari DITAMBAH eritromisin 250 mg per oral 3 kali per hari selama 7 hari.

-          Berikan kortikosteroid kepada ibu untuk memperbaiki kematangan paru janin betametason 12 mg I.M. dalam 2 dosis setiap 12 jam ATAU deksametason 6 mg I.M. dalam 4 dosis setiap 6 jam.

-          Lakikan persalinan pada kehamilan 37 minggu

-          Jika terdapat his dan darah lender, kemungkinan terjadi persalinan preterm

  • Jika tidak terdapat infeksi dan kehamilan > 37 minggu

-          Jika ketuban telah pecah > 18 jam, berikan antibiotika profilaksis untuk mengurangi resiko infeksi sreptokokus grup B:

ü  Ampisilin 2 g I.V. setiap 6 jam ATAU penisilin G 2 juta unit I.V. setiap 6 jam sampai persalianan jika tidak ada infeksi pasca persalinan hentika antibiotika

-          Nilai serviks

ü  Jika serviks sudah matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin

ü  Jika serviks belum matang, matangkan serviks dengan prostaglandin dan infuse oksitosin atau lahirkan dengan seksio sesarea.

2.         Perdarahan Pada Kehamilan Muda

a.          Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.

Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi luar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Terminology umum untuk masalah ini adalah keguguran atau miscarriage.

Abortus buatan adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan. Terminology untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi atau abortus provokatus.

  • Masalah

a)      Perdarahan bercak hingga derajat sedang pada kehamilan muda

b)      Perdarahan massif atau hebat pada kehamilan muda.

  • Penanganan umum

a)      Lakukan penilaian awal untuk segera menetukan kondisi pasien (gawat darurat,komplikasi berat atau masih cukup stabil)

b)      Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilitasi pasien sebelum melakukan tindakan lanjutan (evaluasi medic atau merujuk)

c)      Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk ke rumah sakit.

ü  Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahn hebat, segera atasi komplikasi tersebut

ü  Gunakan jarum infuse besar (16 G atau lebih besar) dan berikan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer.

ü  Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji padanan-silang (crossmatch)

ü  Ingat : kemungkinan hamil ektopik pada pasien hamil muda dengan syok berat

ü  Bila terdapat tanda-tanda Sepsis, berikan antibiotika yang sesuai

ü  Temukan dan hentikan dengan segera sumber perdarahan

ü  Lakukan pemantaun ketat tentang kondisi pascatindakan dan perkembangan lanjutan.

  • Jenis-jenis abortus

1)      Abortus imminens terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.

ü  Tidak perlu pengonbatan khusus atau tirah baring total

ü  Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlrbihan atau melakukan hubungan seksual

ü  Bila perdarah:

-       Berhenti: lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi.

-       Terus berlangsung: nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG) lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola).

-       Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologi

2)      Abortus insipiens

Perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda di mana hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit.

ü  Lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi bila usia gestasi ≤ 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan peralatan Aspirasi Vakum Manual (AVM) setelah bagian-bagian janin dikeluarkan. Bila usia gestasi ≥ 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan prosedur dilatasi dan kutretase (D&K)

ü  Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilaksanakan atau usia gestasi lebih besar dari 16 minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan:

-    Infuse Oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat dinaikkan hingga 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi uterus hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi.

-    Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian.

-    Misoprostol 400 mg per oral dan apabila masih diperlukan, dapat diulangi dengan dosis yang sama setelah 4 jam dari dosis awal.

ü  Hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat dikeluarkan dengan AVM atau D&K (hati-hati resiki perforasi)

3)      Abortus Inkomplit

Perdarahan pada kehamilan muda di mana sebagian dari hasil konsepsi telah ke luar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis.

ü  Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komlikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis)

ü  Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai perdarahn hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum. Setelah itu evaluasi perdarahan:

-    Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg peroral

-    Bila perdarahan terus berlangsung, evaluasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D&K (pilihan tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian-bagian janin)

ü  Bila tak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika profilaksis (ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg)

ü  Bila terjadi infeksi, beri ampisilin 1 g dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam

ü  Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi di bawah 16 minggu, segera lakukan evaluasi dengan AVM

ü  Bila pasien tampak anemic, berikan sulfas ferosus 600 mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfuse darah (anemia berat)

4)      Abortus komplit perdarahan pada kehamilan muda dimana sekuruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri.

ü  Apabila kondisi pasien baik, cukup diberi tablet Ergometrin 3×1 tablet/hari untuk 3 hari

ü  Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfat ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu disertai dengan anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu,sayuran segar, ikan , daging, telur). Untuk anemia berat, berikan tranfusi darah.

ü  Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberi antibiotika, atau apabila khawatir akan infeksi dapat diberi antibiotika profilaksis.

3.      Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. Tuba fallopi merupakan tempat tersering untuk terjadi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%).

Tanda gejalanya sangtlah bervariasi bergantung pada pecah atau tidaknya kehamilan tersebut. Alat penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kehamilan ektopik yang pecah adalah tes kehamilan dari serum dikombinasidenga ultrasonografi. Jika diperoleh hasil yang tidak membeku, segera mulai penanganan.

a.       Diagnosis banding

Diagnosis banding tersering untuk kehamilan ektopik adalah abortus imminens. Diagnosi banding adalah penyakit radang panggul baik akut Maupin kronis, kista ovarium (terpuntir atau ruptur), dan apendisitis akut. Jika tersedia, ultrasonografi dapat digunakan untuk membedakan abortus imminens atau kista ovarium terpuntir dengan kehamilan ektopik.

b.      Penanganan awal

  • Jika fasilitas memungkinkan, segera lakukan uji silang darah dan laparotomi. Jangan menunggu darah sebelum melakukan pembedahan
  • Jika fasilitas tidak memungkinkan, segera rujuk ke fasilitas lebih lengkap dengan memperhatikan hal-hal yang diuraikan pada bagian penilaian awal.
  • Pada laparotomi, eksplorasi kedua avaria dan tuba fallopi:

-          Jika terjadi kerusakan berat pada tuba, lakukan salpingektomi (tuba yang berdarah dan hasil konsepsi dieksisi bersama-sama). Ini merupakan terapi pilihan pada sebagian besar kasus.

-          Jika kerusakan pada tuba kecil, lakukan salpingostomi (hasil konsepsi dikeluarkan, tuba dipertahankan). Hal ini hanya dilakukan jika konservasi kesuburan merupakan hal yang penting untuk ibu tersebut, karena resiko kehamilan ektopik berikutnya cukup tinggi.

c.       Auto-transfusi

Jika terjadi perdarahan banyak dapat dilakukan auto-transfusi jika darah intraab-dominal masih segar dan tidak terinfeksi atau terkontaminasi (pada akhir kehamilan, darah dapat terkontaminasi dengan air ketuban, dan lain-lain sehingga sebaiknya tidak digunakan untuk auto-transfusi). Darah dapat dikumpulkan sebelum pembedahan atau setelah abdomen dibuka:

  • Sewaktu ibu tersebut berbaring di atas meja operasi sebelum operasi dan abdomen tampak tegang akibat terkumpulnya darah, saat itu memungkinkan untuk memasukkan jarum melalui dinding abdomen dan darah dikumpulkan di set donor.
  • Cara lain, bukalah abdomen:

-          Ambil darah ke dalam suatu tempat dan saringlah darah dengan menggunakan kasa untuk memisahkan bekuan darah

-          Bersihkan bagian atas dari kantong donor darah dengan cairan antiseptic dan bukalah dengan pisau steril

-          Tuangkan darah wanita tersebut ke dalam kantong dan masukkan kembali melalui set penyaring dengan cara biasa

-          Jika tidak ersedia kantong donor dengan antikoagulan, tambahkan sodium sitrat 10 ml untuk setiap 90 ml darah.

b.

c.

d.      Penanganan selanjutnya

  • Sebelum memperoleh ibu pulang, lakukan konseling dan nasihat mengenai prognosis kesuburannya. Mengingat meningkatnya risiko akan kehamilan ektopik selanjutnya, konseling metode kontrasepsi metode kontrasepsi dan penyediaan metode kontarsepsi, jika diinginkan, merupakan hal yang penting
  • Perbaiki anemia dengan sulfas ferrosus 600 mg/hari per oral selama 2 minggu
  • Jadwalkan kunjungan berikutnya untuk pemantauan dalam waktu 4 minggu.

4.      Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan aktif.
Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan oleh :

  • His tidak efisien (adekuat)
  • Faktor janin (malpresenstasi, malposisi, janin besar)
  • Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)

a.       Tanda dan gejala partus lama, yaitu:

  • Pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada partograf.
  • Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam.
  • Frekuensi kontraksi kurang dari 2 kali dalam 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik.

b.      Penanganan umum

  • Nilai dengan segera keadaan umum ibu hamil dan janin (termasuk tanda vital dan tingkat hidrasinya)
  • Kaji kembali partograf, tentukan apakan pasien berada dalam persalinan.

-          Nilai frekuensi dan lamanya his.

  • Perbaiki keadaan umum dengan:

-          Dukungan emosi perubahan posisi (sesuaidengan penanganan persalinan normal)

-          Periksa keton dalam urin dan berikan cairan, baik oral maupun parentraln dan upayakan buang air kecil (katerisasi hanya kalau perlu)

  • Berikan analgesia: tramadol atau petidin 25 mg IM (maksimum 1 mg/kgBB) atau morfin 10 mg IM, jika pasien meraskan nyeri yang sangat

c.       Penanganan khusus periksa apakah ada infeksi saluran kemih atau ketuban pecah. Jika didapatkan infeksi, obati secara adekuat. Jika tidak ada pasien boleh rawat jalan.

  • Fase Laten Memanjang (Prolonged Latent Phase)

Diagnosis fase laten memanjang dibuat secara retrospektif. Jika his berhenti, pasien disebut belum in partu atau persalinan palsu. Jika his makin teratur dan pembukaan makin bertambah lebih dari 4 cm, pasien masuk dalam fase laten. Jika fase laten lebih dari 8 jam dan tidak tanda-tanda kemajuan, lakukan penilaian ulang terhadap serviks:

ü  Jika tidak ada perubahan pada pendataran atau pembukaan serviks dan tidak ada gawat janin, mungkin pasien belum in partu

ü  Jika ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks, lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin

-          Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam

-          Jika pasien tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin selama 8 jam, lakukan seksio sesarea

ü  Jika didapatkan tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau):

-          Lakukan akselerasipersalinan dengan oksitosin

-          Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan

Ø  Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam

Ø  DITAMBAH gentamisin 5 mg/kgBB IV setiap 24 jam

Ø  Jika dilakukan seksio sesarea lanjutkan antibiotika DITAMBAH metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas demam selama 48 jam

  • Fase aktif memanjang

ü  Jika tidak ada tanda-tanda disproporsi sefalopelvik atau obstruksi dan ketuban masih utuh, pecahkan ketuban

ü  Nilai his:

-          Jika his tidak adekuat (kurang dari 3 dalam 10 menit dan lamanya kurang dari 40 detik) pertimbangkan adanya inersia uteri

-          Jika his adekuat (3 kali dalam 10 menit dan lamanya lebih dari 40 detik), pertimbangkan adanya disproporsi, obstruksi, malposisi atau malpresentasi

ü  Lakukan penanganan umum yang akan memperbaiki his dan mempercepat kemajuan persalinan.

5.      Syok merupakan kegagalan system sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital. Syok merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa dan membutuhkan tindakan segera dan intensif.

Penyebab syok pada kasus gawat darurat obstetric biasanya adalah perdarahan (syok hipovolemik), sepsis (syok septic), gagal jantung (syok kardiogenik), rasa nyeri (syok neurogenik), alergi (syok anafilaktik).

Curigai atau antisipasi syok jika terdapat satu atau lebih kondisi berikut ini.

  • Perdarahan pada awal kehamilan (seperti abortus, kehamilan ektopik atau mola)
  • Perdarahan pada akhir kehamilan atau persalinan (seperti plasenta previa, solusio plasenta, rupture uteri)
  • Perdarahan setelah melahirkan (seperti rupture uteri, atonia uteri, robekan jalan lahir, plasenta yang tertinggal)
  • Infeksi (seperti pada abortus yang tidak aman atau abortus septic, amnionitis, merritis, pielonefritis)
  • Trauma (seperti perlukaan pada uterus atau usus selama abortus, rupture uteri, robekan jalan lahir)

a.       Tanda dan gejala

Diagnosis syok jika terdapat tanda atau gejala berikut:

-          Nadi cepat dan lemah (110 kali per menit atau lebih)

-          Tekanan darah yang rendah (sistolik kurang dari 90 mmHg)

b.      Tanda dan gejala lain dari syok meliputi:

-          Pucat (khususnya pada kelopak mata bagian dalam, telapak tangan, atau sekitar mulut)

-          Keringat atau kulit yang terasa dingin dan lembab

-          Pernafasan yang cepat (30 kali per menit atau lebih)

-          Gelisah, bingung, atau hilangnya kesadaran

-          Urin yang sedikit (kurang dari 30 ml per jam)

c.       Penanganan Awal

-          Mintalah bantuan segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat

-          Lukukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu dan harus dipastikan bahwa jalan nafas bebas.

-          Pantau tanda vital (nadi, tekanan darah, pernafasan, dan suhu tubuh)

-          Baringkan ibu tersebut dalam posisi miring untuk meminimalkan resiko terjadinya aspirasi jika ia muntah dan untuk memastikan jalan nafasnya terbuka

-          Jagalah ibu tersebut tetap hangat tetapi jangan terlalu panas karena hal ini akan menambah sirkulasi perifernya dan mengurangi aliran darah ke organ vitalnya.

-          Naikkan kaki untuk menambah jumlah darah yang kembali ke jantung (jika memungkinkan tinggikan tempat tidur pada bagian kaki)

d.      Penanganan khusus

-          Mulailah pemberian infuse (ukuran 16 atau 18) segera berikan cairan infuse (garam fisiologik atau Ringer Laktat) awalnya dengan kecepatan 1 liter dalam 15-20 menit.

-          Berikan paling sedikit 2 liter cairan ini pada 1 jam pertama. Jumlah ini melebihi cairan yang dibutuhkan untuk mengganti kehilangan cairan yang sedang berjalan, setelah kehilangan cairan dikoreksi, pemberian cairan infuse dipertahankan dalam kecepatan 1 liter per 6-8 jam.

-          Jangan berikan cairan melalui mulut pada ibu yang mengalami syok

6.      Perdarahan post partum adalah perdarahan pervaginam yang melebihi 500 mlsetelah bersalin didefinisikan sebagai perdarahan pascapersalinan. Terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini

  • Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari sebenarnya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urin. Darah juga tersebar pada spons, handuk, dan kain, di dalam ember dan di lantai
  • Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar hemoglobin normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada yang anemia.

Seorang ibu yang sehat dan tidak anemic pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah

  • Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikendali sampai terjadi syok

a.       Masalah

  • Perdarahan setelah bayi lahir dan dalam 24 jam pertama persalinan (perdarahan Pascapersalinan Primer atau P3)
  • Perdarahan setelah 24 jam pertama persalinan (Perdarahan Pascapersalinan Sekunder atau P2)

b.      Penanganan

  • Mintalah bantuan. Segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat.
  • Lakukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu termasuk tanda vital (nadi, tekanan darah, pernafasna, dan suhu tubuh)
  • Jika curiga adanya syok, segera lakukan tindakan. Jika tanda-tanda syok tidak terlihat, ingatlah saat anda melakukan evaluasi lanjut karena status wanita tersebut dapat memburuk denga cepat. Jika terjadi syok, segera mulai penanganan syok.
  • Pastikan bahwa kontraksi uterus baik:

-          Lakukan pijatan uterus untuk mengeluarkan bekuan darah. Bekuan darah yang terperangkap di uterus akan menghalangi kontraksi uterus yang efektif.

-          Berikan 10 unit oksitosin IM

  • Pasang infuse cairan IV
  • Lakukan kateterasi, dan pantau cairan keluar-masuk
  • Periksa kelengkapan plasenta
  • Periksa kemungkinan ronbekan serviks, vagina dan perineum
  • Jika perdarahn terus berlangsung, lakukan uji beku darah
  • Setelah perdarahan teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti), periksa kadar hemoglobin.

7.      Kejang atau Eklampsia merupakan keadaan darurat yang harus segera ditangani pada kehamilan, yaitu berupa kejang-kejang pada ibu hamil akibat kehamilan itu sendiri. Biasanya, sebelum terjadi eklampsia, terdapat suatu diagnosa preeklampsia. Disebut preeklampsia karena penyakit ini mengawali terjadinya eklampsia.

Preeklampsia merupakan penyakit denagan tanda adanya hipertensi, udema, dan proteinuria (adanya protein dalam urin) yang timbul karena kehamilan. Biasanya sindrom preeklampsia ringan sering tidak diketahui/tidak diperhatikan oleh ibu hamil bersangkutan. Sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat dapat menjadi preeklampsia berat atau bahkan eklampsia. Preeklampsia umumnya terjadi dalam trimester ke-3 kehamilan, namun dapat pula terjadi sebelumnya. Ia lebih sering terjadi pada wanita yang hamil anak pertama pada usia kehamilan mulai 20 minggu.

a.          Penyebab

Sampai saat ini, penyebab terjadinya preeklampsia/eklampsia masih belum pasti. Salah satu teori yang banyak dikemukakan dewasa ini adanya iskemia (pembuluh darah terjepit sehingga terjadi gangguan aliran pembuluh darah dan berkurangnya aliran darah) pada plasenta. Namun teori ini juga belum bisa menerangkan berbagai pertanyaan yang bersangkutan tentangnya.

Frekuensi terjadinya preeklampsia pada tiap negara berbeda, karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu sosial ekonomi, adanya perbedaan kriteria dalam peningkatan diagnosa, dan sebagainya. Wanita yang baru pertama kali hamil memiliki risiko terjadinya preeklampsia dan eklampsia lebih besar dari yang sudah beberapa kali melahirkan.

b.         Gejala

Preeklampsia merupakan penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, udema, dan proteinuria. Berat ringannya penyakit tergantung dari tingginya kadar-kadar tersebut. Biasanya hipertensi muncul lebih awal dari gejala lainnya. Gejala yang tampak akan berbeda bila dibandingkan dengan keluhan kehamilan dengan disertai hipertensi, karena biasanya tekanan darah sudah tinggi sejak awal kehamilan.

Pada wanita hamil dengan preeklampsia, umumnya tekanan darah pada kondisi tidak hamil adalah normal atau malah cenderung rendah, sehingga seringkali ibu hamil terkejut sewaktu mengetahui tekanan darahnya meningkat secara tiba-tiba. Ada beberapa tahap preeklampsia sebelum menjadi eklampsia. Preeklampsia ringan terjadi jika tekanan darah sedikit di atas 140/100 mmhg. Pada preeklampsia sedang, gejala berupa tekanan darah naik di atas 140/100 mmhg dengan disertai rasa pusing, dan terdapat pembengkakan di daerah wajah, jari tangan dan kaki. Disebut preeklampsia berat jika tekanan darah di atas 160/100 mmhg, pusing bertambah berat, terdapat gangguan penglihatan berupa mata kabur dan susah buang air besar.

Bila kondisi tersebut tidak segera diatasi, ditakutkan akan terjadi eklampsia (kejang) yang lama kelamaan akan mengganggu fungsi organ tubuh yang lain dan mengancam jiwa ibu hamil dan janinnya.. Udema ialah penimbunan cairan secara berlebihan pada jaringan longgar tubuh. Kondisi ini terlihat dari kenaikan berat badan yang tampak mencolok serta pembengkakan di jari tangan, kaki dan wajah. Memang, bengkak pada kehamilan merupakan hal yang biasa, namun jika berlebihan tetap harus diwaspadai.

Tiap ibu hamil diharuskan mengalami peningkatan berat badan selama kehamilannya. Kenaikan berat badan 0,5 kg per minggu masih dianggap normal. Namun jika terdapat penambahan berat badan lebih dari 1 kg per minggu secara berturut-turut, harus dicurigai kemungkinan terjadinya preeklampsia.

c.    Terapi

Terapi yang diberikan pada ibu hamil dengan preeklampsia bertujuan mencegah terjadinya preeklampsia menjadi lebih berat atau menjadi eklampsia. Ibu hamil diharapkan mampu melahirkan bayi hidup, dan mampu melahirkan dengan trauma yang minimal baik pada bayi maupun ibu sendiri.

Untuk penderita preeklampsia ringan, dianjurkan untuk bed rest dengan kaki lebih tinggi dari badan. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya aliran darah ke plasenta, ginjal, tekanan pembuluh darah vena pada anggota gerak tubuh bagian bawah berkurang dan penyerapan cairan pada daerah tersebut berkurang pula sehingga udema akan berkurang.

Kemudian ibu hamil dianjurkan untuk selalu mengkonsumsi makanan yang bergizi, rendah lemak, karbohidrat, mengurangi garam dan memperbanyak sayuran dan buah segar. Bila dengan cara itu kondisi ibu hamil belum juga membaik, walaupun sudah ditambah pemberian obat-obatan, maka kehamilan harus segera diakhiri meskipun umur janin masih belum mencukupi.

Pada penderita eklampsia, jika umur kehamilan belum mencukupi untuk lahir, selain diberikan obat penenang dan penguat rahim, biasanya oleh pihak rumah sakit akan diisolasi di suatu ruang tersendiri dengan lampu yang gelap, karena ia harus benar-benar tenang. Sebab bila ia dikejutkan sedikit oleh sesuatu atau mendapat rangsang cahaya yang menyilaukan, ditakutkan akan terjadi kejang berulang yang akan semakin memperburuk kondisi kehamilannya. Bila dengan segala usaha tersebut masih belum bisa mencegah terjadinya kejang, maka mau tidak mau kehamilan harus segera diakhiri.

d.   Diagnosa

Diagnosa terhadap kecurigaan preeklampsia dan eklampsia harus segera ditegakkan untuk mencegah terjadinya kematian baik ibu hamil maupun janin. Umumnya terjadinya preeklampsia sukar dicegah, namun kita masih bisa mencegah supaya tidak menjadi lebih parah.

Diagnosa didasarkan pada adanya dua dari ketiga hal tanda utama di atas, yaitu hipertensi, udema, dan proteinuria. Adanya 1 tanda sudah harus diwaspadai, oleh karena semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula dokter menanganinya dan mencegah prognosis yang lebih buruk lagi.

e.       Pencegahan

Tidak ada cara lain untuk mencegah preeklampsia atau eklampsia selain dengan menjaga kehamilan dengan baik. Salah satu caranya dengan selalu mengkonsumsi sayuran, buah segar yang bergizi dan menjalani pola hidup sehat.

Makanan yang dikonsumsi haruslah yang mengandung sedikit garam, rendah lemak, karbohidrat dan tinggi kandungan gizinya. Istirahat dan menjaga makanan sangat berguna bagi ibu hamil. Selain itu, pemeriksaan kehamilan secara teratur amat sangat dianjurkan untuk terus memonitor kondisi ibu hamil maupun janin yang tengah dikandungnya. Bila suatu saat ibu hamil merasakan pusing atau leher terasa kaku, harap segera mengukur tekanan darah. Siapa tahu, itu salah satu tanda timbulnya hipertensi pada kehamilan yang dapat menjadi penyakit yang lebih parah lagi.

8.      Distosia bahu adalah kepala janin dilahirkan tetapi bahu tersangkut dan tidak dapat dilahirkan

a.       Penanganan umun

-          Pada setiap persalinan bersiaplah untuk menghadapi distosia bahu, khususnya pada persalinan dengan bayi besar

-          Siapkan beberapa orang untuk membantu

b.      Diagnosis

-          Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tetap berada dekat vulva

-          Dagu tertarik dan menekan perineum

-          Tarikan pada kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap di belakang simfisis pubis

c.       Penanganan

-          Buatlah episiotomy yang cukup luas untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak dan member ruangan untuk tindakan

-          Dalam posisi ibu berbaring telentang, mintalah ia untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin kearah dadanya. Mintalah bantuan 2 orang asisten untuk menekan fleksi kedua lutut ibu kearah dada.

9.      Gawat janin dalam persalinan

a.       Masalah

-          Denyut jantung janin (DJJ) kurang dari 100 per menit atau lebih dari 180 per menit.

-          Air ketuban hijau kental

b.      Penanganan

-          Baringkan ibu miring ke kiri, aanjurkan ibu untuk menarik nafas panjang perlahan-lahan dan berhenti meneran

-          Nilai ulanh DJJ setelah 5 menit:

  • Jika DJJ normal, minta ibu kembali meneran dan pantau DJJ setelah setiap kontraksi. Pastikan ibu tidak berbaring terlentang dan tidak menahan nafasnya saat meneran
  • Jika DJJ abnormal, rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaa gawat darurat obstetric dan bayi baru lahir
  • Dampingi ibu ketempat rujuk

10.  Infeksi dalam persalinan

a.       Prinsip dasar

  • Infeksi intrauterine (korioamnionitis, infeksi intramnion, amnionitis) merupakan infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput koriomnion yang disebabkan oleh bakteri.
  • Sekitar 25 % infeksi intrauterine disebabkan oleh ketuban pecah dini
  • Makin lama jarak antara ketuban pecah dengan persalinan, makin tinggi pula resiko morbiditas dan mortalitas ibu dan janin
  • Vagina merupakan medium kultur yang sangatbaik bagi flora vagina, perubahan suasana vagina selama kehamilan , menyebabkan turunnya pertahanan alamiah terhadap infeksi

b.      Masalah

Infeksi intrauterine merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan perinatal

c.       Penanganan

  • Observasi jalannya persalinan dengan baik dan benar
  • Evaluasi setiap demam yang terjadi dalam periode persalinan
  • Kenali segera apabila terjadi ketuban pecah sebelum waktunya
  • Periksa dalam hanya dilakukan atas indikasi yang jelas dan ikuti jadwal evaluasi ulang menurut partograf atau waktu yang telah ditentukan sebelumnya
  • Terapkan prinsip kewaspadaan universal
  • Nilai dengan cermat setiap kasus rujukan dengan dugaan partus lama, macet atau yang bermasalah
  • Lakukan pengobatan profilaksis apabila persalinan diduga akan berlangsung lama
  • Region genetalia dan sekitranya merupakan area dengan resiko tinggi kejadian infeksi atau merupakan tempat sumber infeksi.

Daftar Pustaka
Sarwono, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,2009,Jakarta.

© 2014 Unzilaturrohmah All rights reserved - Mobile View - Powered by WordPress and Wallow - Have fun!